Ini bukan
tulisan pertama aku pada blog bagian ini, semangat
menulisku mulai kembali seperti awal menulis blog dulu, banyak pemahaman dari
berbagai bacaan dan pengalaman yang aku simpulkan sendiri, jadi disini pembaca
bebas mengartikan sebagai apapun, pada saat aku memposting tulisan ini,
sepenuhnya ini hak milik pembaca. Tak ada paksaan untuk mengerti sesuatu
ataupun mengarahkan kemaksud tertentu.
“Muhammad-kan
dirimu, maka Allah akan Meng-Khadijah-kan jodohmu” jauh sebelum aku menemukan
kata2 ini, aku telah belajar untuk mengimani bagian ayat yang mengatakan pria
baik2 akan bersama dengan wanita baik2, ada juga yang mengatakan jodoh kita
adalah cerminan diri kita, namun hari ini aku memahami dengan sudut pandang
berbeda, labirin dalam otak aku mengarahkan aku pada sebuah kesimpulan, dalam
kenyataannya, semua kalimat diatas sangat bertolak belakang dengan kenyataan
yang aku temukan selama ini, kalimat diatas hanya berlaku 0,1% pada org yang ku
kenal, masih bisa aku hitung jari dari pernikahan pria baik2 yang berjodoh dengan wanita baik2 dan kehidupan
mereka terlalu monoton. Kenyataan yang aku lihat, pria baik2 penasaran dengan
wanita yang butuh bimbingan, begitu juga sebaliknya.
Aku tidak
ingin menyama-nyamakan dengan org yang aku kagumi sejak dulu, dari latar
belakang keluarga yang ku tahu, dia bakalan jadi wanita baik2, dan aku berusaha
memantaskan diri untuk jadi pria baik2, mengetahui dia pacaran, aku juga
pacaran dengan wanita baik2 dengan cara
pacaranku yang dulu mungkin dosa terbesarnya hanya berpegang tangan dengan bukan mukhrim, karna aku masih
yakin dengan salah satu janji Tuhan itu.
Pada saat aku merasakan kemungkinan untuk bersama orang yang kukagumi itu tinggal 0,01% aku mulai mencoba pacaran dengan serius, memilih wanita yang butuh bimbingan, kusadari dia wanita yang paling mengerti aku hingga saat ini, dia yang menerima aku yang mencintai teman sd melebihi cintaku padanya, dia yang mau mendengar, bercerita, dibimbing, apapun itu untuk jadi lebih baik, dan yang aku yakin sayang dan cintanya melebihi apapun untukku belum tentu aku bisa dapatkan dari wanita lain, namun aku terbentur sebuah masalah jika tetap bersamanya, restu orang tuaku. Dan aku akhiri semua pahala dan dosa yang pernah kami lalui bersama.
Di sisi lain aku juga melihat beberapa wanita yang sebenarnya tidak butuh bimbingan lagi, bukan mencari sesorang yang seperti dia, cerminan dirinya sendiri, namun mencari pria yang butuh bimbingan.
Aku masih
belum menemukan jawaban dari pertanyaan ini. Kenapa hal seperti ini lebih
banyak terjadi, dan kenapa cinta lebih bisa tumbuh cepat jika mereka berbeda.
Walaupun aku belum menemukan jawaban soal ini, aku menarik kesimpulan sendiri bahwa disinilah Tuhan menunjukkan teori keseimbangan, jika seseorang yang baik2 menemukan seseorang yang butuh bimbingan, saling mengenal saling berbagi hati, maka lambat laun mereka akan melakukan penyetaraaan derjat, yang butuh bimbingan bisa menjadi lebih baik, atau yang baik2 malah menjadi sama2 butuh bimbingan. Tak ada penyesalan ataupun kebanggaan pada diriku dengan apa yang telah ku lalui, ingin menjadi seorang baik2 atau seorang yang butuh bimbingan? Pilihan ada pada dirimu sendiri. pada akhirnya waktu dan kebersamaan akan menyetarakan derjat kalian disisi-Nya dan otomatis janji Tuhan itu terpenuhi. Wallahu'alam, biarlah ini semua menjadi rahasia Tuhan. Wassalam..