Pada
postingan kali ini, aku tidak menceritakan apa yang dicurhatkan, karna postingan
ini justru membahas tentang polemik yang terjadi pada curhat itu sendiri, banyak cara untuk awal
mula curhat itu terjadi, bisa jadi dari keceplosan yang disengaja sipencurhat, kekepoan orang tempat kita curhat, sampai keinginan
sipencurhat itu sendiri untuk meluapkan rasa atau kegalauan yang selama ini
dipendamnya. Banyak orang yang dicurhatin hanya ingin tahu, ada yang tidak
peduli atau ada juga benar2 ingin membantu. Dan motivasi sipencurhat yaitu menggunakan
curhatnya untuk benar2 ingin cerita atau bisa juga ingin pencitraan sehingga
membuat dia terlihat bagus didepan teman2 sekitarnya. Namun satu hal yang harus
dihindari adalah curhatan dua orang galau yang saling curhat, karna endingnya
mudah ditebak, mereka terus berdebat curhat masing2 hingga satu sama lain harus merasakan masalah
masing2 dan lawan curhatnya harus mengakui curhatan dia yang paling artistik, lebih galau, lebih sakit, yang peling lebih lah pokoknya, itu
terjadi timbal balik, hingga tak ada ending sedikitpun dari curhatan mereka, mhahahaa..
Aku pernah
diposisi sipencurhat, dan tidak jarang juga berada diposisi sebagai tempat curhat. Banyak
cara untuk memulai curhat, mulai dari curhat gratis, maupun curhat bermodal,
biasanya kalau kita melakukan curhat bermodal si tempat kita curhat akan
memberikan ilmu ataupun solusi yang kita butuhkan, terkadang setalah curhat
panjang lebar kita baru menyadari kita telah salah orang dalam memilih tempat
curhat. Kok aku jadi curhat ya.. hahahaa.. saran dari aku sebelum memulai
curhat pilih orang yang tepat untuk curhat dan yakinkan pengalamannya lebih
dari kamu. Mhihiihiii..
Kebanyakan
orang curhat, ingin minta solusi
atau cukup didengar saja, bagi yang minta solusi biasanya curhatannya ini
berat, dan yang ingin didengar saja biasanya curhatannya masih ringan dan tidak
sedikit pada kondisi ini banyak terjadi pencitraan tadi.
Dari curhatan
yang ku tuangkan ke orang sekitar yang menurut aku pantas mereka tahu, hingga
curhat teman sekitar kepadaku, yang menurut aku sebagiannya tidak seharusnya aku tahu,
entah mengapa mereka bisa percaya menceritakan sesuatu pada dirinya kepadaku, padahal hanya hitungan jari orang lain yang juga tahu tentang curhatannya. Semua
tercampur aduk lalu diolah oleh otak dan hati, hingga aku kembali menemukan
pamahaman baru. Aku mengekstrak semua curhatan yang aku tuangkan dan yang aku
terima. Akhirnya aku menemukan 2 kesimpulan inti untuk solusi dari curhat, apapun itu masalahnya :
1. Orang yang curhat
sebenarnya tahu apa yang harus dilakukannya dan apa jawaban yang tepat dari pertanyaan2
yang diajukannya yang membuat dia terlihat galau dan ragu. Namun dia belum siap
untuk menjawab dengan tindakan dan belum siap dengan hasil ataupun dampak yang
akan terjadi nantinya.
2. Orang yang curhat ini, otaknya berfikir dan tahu
tindakan yang dilakukannya salah, namun hatinya tidak menerimanya, pada
akhirnya dia curhat pada semua orang terdekat hingga menemukan jawaban dari
orang terdekat yang sepaham dengan dia. Pada dasarnya dia tidak perlu curhatan,
dia tidak perlu solusi, dia hanya perlu pembenaran, dan pada kasus ini sangat
susah meyakini bahwa dia salah. Karna dia akan lebih percaya 1 orang yang
sepaham dengan dia dibandingkan 1000 orang yang mengatakan dia salah.
Sekian analisa
ga penting dari saya, hehehee... Pada
akhirnya tidak ada curhatan yang lebih baik dari pada curhat ke lantai yang
didengar langit, Tuhan maha tahu,tapi kalau kita ga mau tahu dan tidak meminta
tahu, Tuhan tidak akan memberi tahu, curhatlah sama Tuhan, jemput sepertiga
malam-Nya, nangispun gabakalan ada yang tahu (kalau cuma keluar air mata),
mhihihii.. :’)
Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar