Selasa, 06 Oktober 2015

Konspirasi

akhir2 ini aku seperti kehilangan sesuatu yang melekat dalam diriku, mungkin sudah melekat dengan roh aku, ga tau itu apa, tapi aku merasa sesuatu itu telah hilang atau berkurang, ini juga berpengaruh dengan semangat bergebu2 yang aku punya, aku juga kehilangan beberapa persen dari semangat yang pernah aku punya, ya semangat, aku yakin itu.

ini mungkin ada hubungannya dengan asap yang aku hirup setiap hari yang kian hari kian sesak. Hujan, hilang sedikit, dan muncul lagi, pedih dibunuh perlahan seperti ini teman. Atau memang ada sesuatu yang belum aku ketahui atau mungkin saat aku mengetahuinya semangatku bisa lebih hilang dari ini, entah apa itu, entah.

aku tipikal orang yang terlalu keras dalam mengeritik orang namun sangat tidak tahu tentang diri sendiri,  selalu jujur pada orang lain namun selalu berani dan yakin untuk membohongi diri sendiri.

dan saat ini bayak sekali yang aku pikirkan, namun aku akan mencoba memilah apa yang harus dan tidak seharusnya ku pikirkan, walaupun pada akhirnya nanti setelah aku memikirkan ini, ternyata pikiran aku ini tidak ada manfaatya, tidak ada gunanya, karna pikiran aku yang sebenarnya tertimpa oleh pikiran2 yang ga penting, dan memusingkan aku sendiri.

kita mulai dari asap, ini adalah bencana asap terlama yang pernah aku rasakan, kalian mungkin juga merasakan dan sebagian kalian mungkin hanya melihat.
bencana ini bukanlah seperti bencana tsunami, ledakan bom, ataupun bencana apapun itu yang sakitnya bisa membuat hati ini miris, dengan darah dimana2, ini adalah bencana penyakit dalam, tidak bisa dilihat dan tidak langsung dirasakan efeknya, asap ini lebih beracun dari rokok, terbayang kan bagaimana ibu2 yang sedang hamil yang dilarang merokok tapi dia tidak bisa menghindari asap yang ada dimana2 ini? belum anak kecil yang paru2nya belum tumbuh sempurna, bayangkan saja tidak perlu kamu merasakan juga. wajah2 yang tidak aku kenal seperti berbicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti, persis seperti kabut pagi ini.
aku mengingat sejarah, dimana bencana presiden yang pro pki pada waktu itu yang menaikkan harga sembako, sehingga rakyat tidak lagi memikirkan pemerintahan karna ada perut mereka yang lebih mereka pikirkan, tidakkah sejarah itu terulang kembali?

berapa banyak berita di media massa yang mengangkat tentang asap ini? dibandingkan kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar yahudi, yang endingnya sudah terlihat jelas, dolar naik, harga pokok naik, masyarakat lebih memikirkan perut, dibandingkan bencana asap yang kian lama kian tak selesai.
pemimpin lemah? tidak, kerja tak ada? ada, terus apa yang salah? tindakan yang salah, bertindaklah sesuai dengan seharusnya, kalau tidak bisa, mundurlah.

aku sempat memikirkan salah satu teori konspirasi dari illuminati card yang ini

mengurangi jumlah penduduk dengan menebarkan wabah senjata biologis.
aku tidak mau cerita panjang lebar soal ini, hanya saja, dalam otak ku ini semua saling terkoneksi, terhubung satu sama lain hingga hal2 terkecil, terncana jauh sebelum sebelum sebelum.
bahkan si pembakar hutan yang aku lihat diberita adalah warga yang kurang mampu yang gaji mereka hanya berasal dari pembakaran hutan, tidak menyadari apa yang telah dilakukannya, dan apa dampaknya. mereka adalah salah satu mata rantai terkecilnya. Jika benar ada, asap yg sangat beracun tinggal d kamuflase dengan asap sawit ini walaupun asap sawit ini sudah beracun, kamu pasti tau ending dari cerita ini.

melihat pemerintah yang seolah2 mengetahui, mendengar, dan bertindak, tapi tetap yang terakhir itu adalah hasil, dan hasilnya hampir 3 bulan ini belum kunjung padam bahkan tambah parah asap yang kurasa.

haruskah kesejahteraan itu menelan korban?
haruskah perdamaian tercipta setelah ada korban?
aku rasa aku cukup merasakan pengorbanan perasaan dan sekarang?

aku rindu udara segar, aku rindu kamu, sayangku...
berkelanalah seperti asap namun tetap kuhirup disetiap detak jantungku.


wassalam.