Level tertinggi mencintai adalah
merelakannya bahagia bersama orang lain. Level tertinggi bullshit adalah
kalimat barusan. Ku kutip dari dp bbm teman.
Hahahaaa, mencoba (sok) berpaham
lagi dengan hati dan otak, dua kalimat diawal sangat benar, dan aku sangat
setuju, apapun dan bagaimanapun cara menyampaikannya intinya akan tetap sama
dan benar. Aku sempat berpikir tak ada cara selain itu, kita harus memiliki
orang yang kita cintai titik. Dan menurutku, paham ikhlas lebih susah dari pada
paham sabar. Beneran lohh..
Namun semakin aku melewati hari,
semakin aku bertemu dengan orang sekitar yang baru, semakin aku mengetahui hal
baru, semakin aku berusaha ego ini belajar untuk menurun, cinta memang memaksa,
tapi pikirlah skenario Tuhan, ga semua bisa kita yang kendalikan.
Memang tidak ada ilmu ikhlas
secara jelas di buku2 ajar, karna semakin kamu katakan ikhlas, semakin semua
itu terlihat tidak ikhlas, tapi cobalah sejenak melirik kepada surat Al-Ikhlas,
apakah kurang jelas? Benar2 tidak ada
kata2 ikhlas, karna cara ikhlas itu hanya kembali mengingat-Nya, selagi kita
masih menggantungkan sesuatu pada manusia yang sama2 seperti kita ataupun benda
yang sama2 diciptakan-Nya, kita tidak akan pernah mendapatkan rasa Ikhlas itu. Berhentilah
berharap, berhentilah memandang alam, berhentilah memandang diri, berhentilah
menghabiskan waktu untuk memikirkan ciptaan-Nya.
Berdoa pada Tuhan agar hati ini
rela melihat mereka yang kita cintai bahagia bersama orang lain, itu bukan
ikhlas. Meskipun dalam hati terdalam kita telah merelakannya dunia akhirat
tanpa memberitahu siapapun, namun itu tetap belum ikhlas, karna objeknya masih manusia,
coba kita ganti dengan, berdoa pada Tuhan untuk menjalankan setiap detik yang
kita lalui sesuai rencana-Nya, dan kita ubah objeknya adalah Tuhan. InsyaAllah
kita temukan bersama-sama ikhlas yang sebenarnya kita cari,bukan sekedar
mengumbar kata2 ikhlas dengan kalimat majas pujangga2 instan dari copy-an media instan.
InsyaAllah kita semua bisa
menjalaninya.. Aamiin..
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar